Bagian 1: Membangun Fondasi Interpretasi Geopark melalui Pelatihan Pemandu Wisata
Kunjungan tim dari Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ke Bojonegoro menjadi bagian dari langkah strategis dalam memperkuat kesiapan Geopark Bojonegoro menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geoparks (UGGp). Kegiatan ini dilaksanakan atas permintaan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam bentuk pelatihan bagi para pemandu wisata di Pusat Informasi Geopark (PIG). Para pemandu tersebut kelak menjadi ujung tombak dalam menyampaikan narasi geologi kepada masyarakat.
Dalam konteks geopark, peran pemandu wisata tidak dapat dipandang sebagai pelengkap semata. Mereka merupakan aktor kunci dalam menjembatani pengetahuan geologi yang bersifat teknis dengan pemahaman publik yang lebih luas dan beragam. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas pemandu wisata menjadi salah satu aspek krusial dalam memastikan bahwa nilai-nilai geopark dapat tersampaikan secara efektif, akurat, dan menarik.
Kegiatan pelatihan ini dirancang tidak hanya sebagai transfer pengetahuan geologi, tetapi juga sebagai upaya memperkuat kemampuan interpretasi yang mengintegrasikan aspek geologi, budaya, dan kearifan lokal. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dasar geopark yang menempatkan edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat sebagai tiga pilar utama dalam pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Acara dibuka oleh Ibu Ezadelba Agustina sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro. Beliau menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga ilmiah dalam peningkatan kualitas geopark. Dalam arahannya, beliau meminta agar geopark mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dalam bentuk peningkatan ekonomi melalui pariwisata maupun dalam peningkatan literasi geologi dan kesadaran lingkungan.
Dalam sambutannya, perwakilan Pusat Survei Geologi (PSG) – Badan Geologi menegaskan komitmen PSG dalam mendukung pengembangan geopark melalui penyediaan data, informasi, dan edukasi geologi. Peran ini merupakan bagian dari tugas dan fungsi PSG dalam mendiseminasikan pengetahuan geosains kepada masyarakat secara luas.
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah perlunya pengayaan kearifan lokal dalam interpretasi geosite. Hal ini menjadi relevan karena pendekatan berbasis budaya dan narasi lokal dinilai lebih efektif dalam membantu masyarakat memahami fenomena geologi yang kompleks. Dengan demikian, pemandu wisata diharapkan tidak hanya menyampaikan fakta ilmiah, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan konteks sosial dan budaya setempat.
Geopark Bojonegoro mengusung tema “Unique Petroleum System on Land”. Tema tersebut mencerminkan keunikan kawasan dengan sistem perminyakan yang relatif lengkap dan tersingkap di permukaan. Bojonegoro dikenal sebagai lokasi penambangan minyak tradisional tertua yang masih aktif hingga sekarang, khususnya di Desa Wonocolo. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi pengembangan edukasi geologi berbasis lapangan karena proses-proses yang umumnya berada di bawah permukaan bumi dapat diamati secara langsung oleh pengunjung.
Keunikan tersebut menjadikan Bojonegoro sebagai laboratorium alami untuk memahami dinamika pembentukan, migrasi, dan akumulasi hidrokarbon. Dalam konteks ini, geopark tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang memiliki nilai ilmiah tinggi dan relevansi luas, termasuk dalam isu energi dan sumber daya alam.
Identitas geopark ini juga tercermin pada logo yang menggambarkan alat penambangan minyak bumi tradisional, sebagai simbol keterkaitan antara kekayaan geologi dan sejarah panjang pemanfaatannya oleh masyarakat. Salah satu lokasi yang menjadi ikon adalah Wonocolo, yang dikenal sebagai “Texas of Java”, di mana aktivitas penambangan minyak tradisional masih berlangsung hingga saat ini.
Pelatihan hari pertama dilaksanakan di Gedung PIG Bojonegoro dengan fokus pada penyampaian materi kelas yang mencakup dasar-dasar geologi, konsep geopark, teknik interpretasi geosite, serta strategi komunikasi yang efektif. Materi ini dirancang untuk membekali pemandu wisata dengan pemahaman yang komprehensif sebelum melakukan praktik langsung di lapangan.
Pelatihan tidak berhenti pada penguatan pemahaman di dalam kelas. Pada hari kedua, peserta diajak untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah diperoleh melalui kunjungan langsung ke sejumlah geosite utama di Bojonegoro, seperti Kedung Lantung, Kedung Maor, dan Banyu Kuning. Interaksi langsung dengan objek geologi di lapangan menjadi tahap penting dalam membangun kemampuan interpretasi yang kontekstual, sekaligus menguji kesiapan geopark dalam menghadapi verifikasi internasional.
Penasaran dengan pelatihan pemandu hari kedua? Yuk kita Simak di Bagian 2
Penulis : M. Fajar Sodiq, Arief Prabowo, Riecca Oktavitania, dan Ronaldo Irzon
Penyunting : Tim Scientific Board – PSG
