Pada Selasa, 29 September 2026, telah dilaksanakan kegiatan Upacara Ziarah dan Tabur Bunga di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sasanalaya, Yogyakarta, dalam rangka memperingati Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81 Tahun 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan peringatan yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap jasa para tokoh yang telah memberikan kontribusi, dedikasi, serta pengabdian bagi perkembangan sektor pertambangan dan energi, khususnya dalam mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan geologi di Indonesia.
Upacara ziarah dan tabur bunga tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Badan Geologi, yang bertindak sebagai inspektur upacara. Kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat dan diikuti oleh jajaran pimpinan serta pegawai di lingkungan Badan Geologi. Hadir dalam kegiatan tersebut para Kepala Pusat, Kepala Balai, para Kepala Bagian Umum, Kepala Museum Geologi, serta perwakilan pegawai di lingkungan Badan Geologi. Kehadiran jajaran pimpinan dan pegawai tersebut mencerminkan komitmen untuk terus mengenang dan menghargai jasa para tokoh yang telah memberikan sumbangsih bagi perkembangan sektor pertambangan, energi, dan geologi di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir keluarga besar almarhum A.F. Lasut, sebagai bentuk kebersamaan dalam mengenang sosok yang telah memberikan jasa dan dedikasi bagi kemajuan sektor pertambangan dan geologi di Indonesia. Kehadiran keluarga besar almarhum A.F. Lasut juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ziarah sebagai momentum untuk mengenang perjuangan, pengabdian, dan kontribusi beliau yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan pertambangan dan geologi di Indonesia.
Rangkaian kegiatan dilaksanakan dengan suasana penuh penghormatan, diawali dengan pelaksanaan upacara yang dipimpin oleh Kepala Badan Geologi, dilanjutkan dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan dan tokoh yang telah berjasa, serta kegiatan tabur bunga di makam almarhum A.F. Lasut. Melalui kegiatan tersebut, Badan Geologi tidak hanya memperingati Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81, tetapi juga meneguhkan kembali nilai-nilai keteladanan, semangat pengabdian, dan penghormatan terhadap para pendahulu yang telah meletakkan dasar penting bagi perkembangan sektor pertambangan dan geologi di Indonesia.
Pelaksanaan Upacara Ziarah dan Tabur Bunga ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi seluruh jajaran Badan Geologi untuk terus menghargai sejarah dan perjuangan para pendahulu, sekaligus menumbuhkan semangat untuk melanjutkan pengabdian serta memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan sektor geologi, pertambangan, dan energi dalam mendukung pembangunan nasional.
Mengenang Sosok Arie Frederik Lasut
Lahir di Kapataran, Lembean, Timur, Minahasa, 6 Juli 1918, sulung dari 8 bersaudara putera dari Darius Lasut dan Inkan Supit. Beliau wafat di Pakem, Sleman, Yogyakarta, 7 Mei 1949.
Penghargaan Pahlawari Pembela Kemerdekaan diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada 20 Mei 1969 karena jasa beliau dalam Perang Kemerdekaan Nasional Indonesia dan sebagai pelopor pertambangan dan geologi pada masa awal berdirinya Negara Indonesia.
Atas instruksi Presiden Republik Indonesia beliau mengambil alih Chisitsu Chosajo (jawatan geologi) dari Jepang secara damai pada September 1945 dan mengubah namanya menjadi Jawatan Tambang dan Geologi dengan beliau sebagai Kepala. Untuk menghindari agresi Belanda, Jawatan Tambang dan Geologi beberapa kali berpindah tempat mulai di Bandung kemudian pindah ke Tasikmalaya, Magelang dan Yogyakarta.
Dalam usia muda berkat kepeloporan, keahlian dan keuletannya beliau mampu mengelola suatu Jawatan Tambang dan Geologi yang saat itu termasuk yang terbesar di Asia. Pada masa kepemimpinan beliau dibuka sekolah pelatihan geologi yang pertama. Beliau juga tercatat sebagai anggota Komite Nasional, awal mula dewan perwakilan di Indonesia.
Pengetahuannya yang luas dan dalam tentang pertambangan dan geologi di Indonesia menyebabkan Belanda memaksa beliau untuk bekerjasama namun beliau tidak pernah tunduk. Pada 7 Mei 1949, Belanda menjemput Arie Frederik Lasut di rumahnya kemudian ditembak mati di Pakem, sekitar 7 km di utara Yogyakarta. Jenazah beliau beberapa bulan kemudian dipindahkan ke pekuburan Kristen Kintelan di Yogyakarta di samping Isterinya yang lebih dulu meninggal pada Desember 1947. Pejabat presiden pada saat itu, Mr. Assaat hadir pada upacara pemakaman.

