{"id":2391,"date":"2026-09-11T17:34:44","date_gmt":"2026-09-11T10:34:44","guid":{"rendered":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/?p=2391"},"modified":"2026-09-11T17:35:19","modified_gmt":"2026-09-11T10:35:19","slug":"lahan-gambut-ranca-upas-identifikasi-komunitas-diatom-dan-upaya-konservasi-rawa-gambut-pegunungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/archives\/lahan-gambut-ranca-upas-identifikasi-komunitas-diatom-dan-upaya-konservasi-rawa-gambut-pegunungan\/","title":{"rendered":"Lahan Gambut Ranca Upas: Identifikasi Komunitas Diatom dan Upaya Konservasi Rawa Gambut Pegunungan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar penelitian pendahuluan mikrofosil dan bioindikator perairan di ekosistem Rawa Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Gambar 1). Kajian ini difokuskan pada identifikasi taksonomi dan struktur komunitas diatom (Bacillariophyceae) sebagai langkah awal memahami dinamika lingkungan dan mendukung konservasi lahan gambut pegunungan yang keberadaannya kian langka di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"256\" height=\"245\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/psg.geologi.esdm.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Picture2333.png?resize=256%2C245&#038;ssl=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-2386\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">7o08\u201908,97\u201d S; 107o23\u201933.78\u201d E<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Gambar 1<\/strong>. Citra Google Earth kawasan lahan gambut Ranca Upas. Bulatan kuning adalah titik pemboran tangan dan pengambilan sampel air dan substrat gambut permukaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Signifikansi Ekosistem Rawa Pegunungan Ranca Upas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rawa Ranca Upas merupakan salah satu situs lahan basah (<em>wetland<\/em>) dataran tinggi di zona vulkanik Jawa Barat. Selain berfungsi sebagai area tangkapan air alami dan penyimpan karbon (<em>carbon sink<\/em>), ekosistem ini menyimpan rekaman sejarah iklim masa lalu (paleoklimat) yang sangat berharga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengingat tingginya ancaman alih fungsi lahan dan perubahan iklim global terhadap kelestarian lahan gambut pegunungan, pemetaan rona lingkungan awal (<em>baseline study<\/em>) berbasis mikroorganisme menjadi krusial sebelum dilakukan langkah-langkah konservasi dan pemulihan vegetasi secara terpadu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Hasil Analisis Diatom Air Permukaan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada penelitian awal ini, tim peneliti melakukan pengambilan sampel air dan substrat gambut permukaan, serta melakukan pemboran tangan sedalam 9 meter. Pengambilan sampel air dan substrat permukaan dilakukan untuk memahami keanekaragaman komunitas mikroalga berdinding silika yang menghuni lahan gambut tropis pegunungan ini. Pemahaman ini akan menjadi dasar dalam mempelajari perubahan iklim dan evolusi pembentukan lahan gambut ini dalam beberapa ribu tahun terakhir.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di laboratorium, preparasi cepat dilakukan terhadap sampel air dan substrat gambut permukaan dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Penyaringan Sampel:<\/strong> Sampel air rawa disaring menggunakan media filter mesh halus untuk mengonsentrasikan mikrofosil dan memisahkan material serpihan kasar.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<ol start=\"2\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Penempelan (Mounting) pada Kaca Obyek:<\/strong> Konsentrat mikroalga difiksasi di atas kaca obyek dan direkatkan menggunakan media mounting <em>Canada Balsam<\/em> untuk menghasilkan preparat permanen dengan indeks bias optimal.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Identifikasi &amp; Penghitungan:<\/strong> Analisis taksonomi dan penghitungan kelimpahan diatom dilakukan menggunakan Mikroskop Riset <strong>Olympus BX53<\/strong> yang didukung perangkat lunak akuisisi citra digital <strong>CellSens 28<\/strong>.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Identifikasi dilakukan mengacu pada Krammer, K. (2000), Battarbee, R. W., et al. (2001), Taylor, J. C., Harding, W. R., &amp; Archibald, C. G. M. (2007), Spaulding, S. A., et al. (2021), Guiry, M.D. &amp; Guiry, G.M. (2024). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ada delapan genus diatom yang hadir di perairan lahan gambut Ranca Upas yaitu <em>Navicula<\/em> sp dan <em>Pinnularia<\/em> sp., <em>Eunotia flexuosa<\/em>, <em>Eunotia serra<\/em>, <em>Eunotia diodon<\/em> Ehr., <em>Surirella<\/em> sp., <em>Frustulia<\/em> sp., dan <em>Sellaphora<\/em> sp. (Gambar 2).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"599\" height=\"338\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/psg.geologi.esdm.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot-2026-09-11-183345.jpg?resize=599%2C338&#038;ssl=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-2405\" srcset=\"https:\/\/i0.wp.com\/psg.geologi.esdm.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot-2026-09-11-183345.jpg?w=599&amp;ssl=1 599w, https:\/\/i0.wp.com\/psg.geologi.esdm.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot-2026-09-11-183345.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 599px) 100vw, 599px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Gambar 2<\/strong>. Keanekaragaman diatom di air dan substrat permukaan lahan gambut Ranca Upas: 1. <em>Navicula<\/em> sp., 2. <em>Pinnularia<\/em> sp., 3. <em>Eunotia flexuosa<\/em>, 4. <em>Eunotia serra<\/em>, 5. &nbsp;<em>Eunotia diodon<\/em> Ehr., 6. <em>Surirella<\/em> sp., 7. &nbsp;<em>Frustulia<\/em> sp., 8. <em>Sellaphora<\/em> sp.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Komposisi Taksa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil kuantifikasi menunjukkan bahwa komunitas diatom di lokasi studi didominasi oleh dua genus utama:<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong><em>Navicula<\/em> sp. (52%):<\/strong> Mendominasi lebih dari separuh populasi. Genus ini dikenal sebagai diatom motil bentik (<em>epipelic<\/em>) yang toleran terhadap kondisi perairan kaya nutrisi organik dan substrat halus.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Pinnularia<\/em> sp. (31%):<\/strong> Mengisi porsi terbanyak kedua, termasuk ditemukannya individu yang sedang mengalami proses pembelahan sel (<em>vegetative division<\/em>). <em>Pinnularia<\/em> merupakan takson khas untuk lingkungan air tawar bersuhu sejuk dengan pH cenderung asam hingga distrofik.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Taksa Pendamping (17%):<\/strong> Kelompok pendamping diisi oleh <em>Eunotia flexuosa<\/em>, <em>Eunotia serra<\/em>, <em>Eunotia diodon<\/em> Ehr., <em>Surirella<\/em> sp., <em>Frustulia<\/em> sp., serta <em>Sellaphora<\/em> sp. yang secara eksplisit memperkuat indikasi lingkungan rawa asam berair tenang dengan salinitas sangat rendah.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara keseluruhan, himpunan taksa tersebut merepresentasikan ekosistem rawa gambut asam tergenang dengan pasokan nutrien organik yang melimpah di lapisan substrat benthik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Implikasi Kebijakan Konservasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lahan gambut dan rawa pegunungan merupakan ekosistem terancam (<em>endangered ecosystem<\/em>) di Pulau Jawa akibat aktivitas antropogenik dan tekanan segmentasi lahan sehingga perlu dilakukan berbagai upaya konservasi. Data mikroforensik lingkungan hasil kolaborasi riset ini akan diserahkan kepada pihak pengelola kawasan dan instansi terkait sebagai acuan teknis penetapan batas zona konservasi, perlindungan keanekaragaman hayati, serta mitigasi degradasi lahan basah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol start=\"1\" class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Battarbee, R. W., et al.<\/strong> (2001). <em>Diatoms as indicators of environmental change in subarctic and alpine lakes<\/em>. In: Smol, J.P., et al. (eds) Tracking Environmental Change Using Lake Sediments. Springer, Dordrecht. DOI: 10.1007\/0-306-47668-1_5.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Guiry, M.D. &amp; Guiry, G.M.<\/strong> (2024). <em>AlgaeBase<\/em>. World-wide electronic publication, National University of Ireland, Galway. Accessible at: [https:\/\/www.algaebase.org](https:\/\/www.algaebase.org).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Krammer, K.<\/strong> (2000). <em>Diatoms of Europe: Diatoms of the European Inland Waters and Comparable Habitats (Vol. 1: Pinnularia)<\/em>. A.R.G. Gantner Verlag K.G.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Spaulding, S. A., et al.<\/strong> (2021). <em>Diatoms of North America<\/em>. Accessible at: [https:\/\/diatoms.org](https:\/\/diatoms.org) (Open Access Taxonomic Database).<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Taylor, J. C., Harding, W. R., &amp; Archibald, C. G. M.<\/strong> (2007). <em>An Illustrated Guide to Some Common Diatom Species from South Africa<\/em>. Water Research Commission (WRC) Report TT 282\/07. Open Access PDF.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis : Woro Sri Sukapti (Pusat Survei Geologi-Badan Geologi) dan Eko Yulianto (BRIN)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar penelitian pendahuluan mikrofosil dan bioindikator perairan di ekosistem Rawa Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Gambar 1). Kajian ini difokuskan pada identifikasi taksonomi dan struktur komunitas diatom (Bacillariophyceae) sebagai langkah awal memahami dinamika lingkungan dan mendukung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2405,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_eb_attr":"","_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_feature_clip_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2},"jetpack_post_was_ever_published":false},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-2391","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/psg.geologi.esdm.go.id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot-2026-09-11-183345.jpg?fit=599%2C338&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2391","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2391"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2391\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2406,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2391\/revisions\/2406"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2405"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2391"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2391"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2391"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}