{"id":1764,"date":"2025-08-20T11:30:27","date_gmt":"2025-08-20T04:30:27","guid":{"rendered":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/?p=1764"},"modified":"2025-08-20T11:30:27","modified_gmt":"2025-08-20T04:30:27","slug":"geomorfologi-tektonik-untuk-eksplorasi-hidrogen-alami-di-tanjung-api","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/archives\/geomorfologi-tektonik-untuk-eksplorasi-hidrogen-alami-di-tanjung-api\/","title":{"rendered":"Geomorfologi Tektonik untuk Eksplorasi Hidrogen Alami di Tanjung Api"},"content":{"rendered":"\n<p>Eksplorasi hidrogen alami bukan perkara mudah. Gas ini sulit dideteksi dan hanya muncul di lokasi dengan kondisi geologi khusus. Padahal, hidrogen (H\u2082) bisa terbentuk secara alami di bumi melalui berbagai proses, seperti serpentinisasi, dekomposisi metana, maupun pelapukan biomassa. Seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih, hidrogen alami mulai dipandang sebagai salah satu sumber energi masa depan yang murah, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam studi ini, kami mencoba menawarkan cara baru dalam mencari hidrogen alami: dengan \u201cmembaca\u201d bentuk permukaan bumi\u2014atau dalam istilah ilmiahnya disebut geomorfologi tektonik. Studi dilakukan di kawasan Tanjung Api, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Daerah ini sudah lama dikenal karena memiliki \u201capi abadi\u201d yang konon telah diketahui sejak masa kolonial Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p>Geomorfologi tektonik merupakan cabang ilmu geomorfologi yang mempelajari bentuk permukaan bumi melalui perhitungan morfometri kuantitatif. Dalam penelitian ini, tiga parameter digunakan untuk menganalisis bentang alam: (1) kelurusan muka gunung (<em>mountain front sinuosity<\/em>), (2) kerapatan aliran sungai (<em>drainage density<\/em>), dan (3) indeks bentuk daerah aliran sungai (<em>basin shape index<\/em>). Ketiga parameter ini dapat memberi petunjuk mengenai tingkat aktivitas tektonik. Misalnya, lereng gunung yang lurus dan curam biasanya terbentuk akibat pengangkatan oleh patahan aktif, sementara pola aliran sungai yang rapat sering dijumpai di wilayah yang sedang \u201cbergerak\u201d secara tektonik.<\/p>\n\n\n\n<p>Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Tanjung Api tergolong memiliki aktivitas tektonik tinggi hingga sangat tinggi. Menariknya, dua lokasi semburan gas\u2014yaitu di pantai Tanjung Api dan mata air panas Pulodalagan\u2014terletak di area yang secara geomorfologis aktif. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa gas hidrogen alami tersebut muncul karena adanya patahan aktif di bawah permukaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Survei lapangan memperlihatkan bahwa daerah penelitian didominasi batuan ultramafik dan sedimen. Batuan ultramafik inilah yang menjadi \u201cdapur\u201d alami penghasil hidrogen. Melalui proses serpentinisasi, air yang masuk lewat rekahan atau patahan bereaksi dengan mineral di batuan ultramafik dan menghasilkan gas hidrogen. Proses ini makin intens jika terdapat jalur terbuka seperti patahan, yang memberi ruang bagi air dan gas untuk bergerak lebih leluasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Gas hidrogen hasil serpentinisasi ini kemudian muncul ke permukaan sebagai semburan. Di Tanjung Api, debit gas yang keluar cukup besar, yakni sekitar 1000\u20131400 m\u00b3 per hari dengan kadar hidrogen lebih dari 1000 ppm. Sementara itu, di Pulodalagan, kandungan hidrogen lebih rendah, tetapi tetap signifikan, berkisar 144\u2013197 ppm.<\/p>\n\n\n\n<p>Temuan ini membuktikan bahwa patahan aktif tidak hanya membentuk bentang alam, tetapi juga berfungsi sebagai jalur alami migrasi gas dari dalam bumi menuju permukaan. Karena itu, analisis geomorfologi tektonik bisa menjadi alat bantu yang efektif untuk memetakan wilayah prospektif dalam eksplorasi hidrogen alami\u2014sebuah energi bersih yang menjanjikan untuk masa depan. Studi semacam ini juga sejalan dengan tugas Pusat Survei Geologi (PSG) dalam melakukan survei dan pemetaan potensi geologi nasional, sekaligus mendukung indikator kinerja Badan Geologi terkait data dan sistem informasi hidrogen terpadu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian detil mengenai hal ini telah diterbitkan dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dapat diunduh pada link berikut (<a href=\"https:\/\/jrisetgeotam.brin.go.id\/index.php\/jrisgeotam\/article\/view\/1357\/pdf_1\">https:\/\/jrisetgeotam.brin.go.id\/index.php\/jrisgeotam\/article\/view\/1357\/pdf_1<\/a>)<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penulis<\/strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; :&nbsp;Muhammad Luthfi Faturrakhman<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penyunting<\/strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : Tim&nbsp;<em>Scientific Board<\/em>&nbsp;&#8211; PSG<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Eksplorasi hidrogen alami bukan perkara mudah. Gas ini sulit dideteksi dan hanya muncul di lokasi dengan kondisi geologi khusus. Padahal, hidrogen (H\u2082) bisa terbentuk secara alami di bumi melalui berbagai proses, seperti serpentinisasi, dekomposisi metana, maupun pelapukan biomassa. Seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih, hidrogen alami mulai dipandang sebagai salah satu sumber energi masa depan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1765,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_eb_attr":"","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false},"version":2}},"categories":[6],"tags":[77,80,22,41],"class_list":["post-1764","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-geologi","tag-geologiindonesia","tag-minyak-dan-gas-bumi","tag-pusat-survei-geologi"],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/psg.geologi.esdm.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Berita-pusat-survei-geologi-26.jpg?fit=800%2C600&ssl=1","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1764","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1764"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1764\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1766,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1764\/revisions\/1766"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1765"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1764"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1764"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psg.geologi.esdm.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1764"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}